Rini Faulina, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Tarakan.

TARAKAN, Maqnaia – Maraknya praktik prostitusi terselubung berbasis aplikasi online seperti MiChat menjadi tantangan baru bagi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan dalam melacak dan menekan penularan HIV/AIDS di wilayahnya.

Berbeda dengan lokasi hiburan malam atau tempat lokalisasi fisik yang mudah dijangkau melalui razia tes kesehatan (Mobile VCT), transaksi secara digital dinilai lebih sulit dipantau secara kasat mata.

Rini Faulina, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Tarakan mengakui bahwa pergeseran pola ini membuat penjangkauan kasus memerlukan strategi khusus. Untuk menembus jaringan terselubung tersebut, Dinkes mengandalkan Petugas Penjangkau Lapangan (PL).

“Kalau prostitusi terpusat di satu tempat fisik, kami mudah turun melakukan pemeriksaan. Tapi kalau online, transaksinya tidak terlihat. Maka ujung tombaknya adalah Penjangkau Lapangan (PL) yang memang paham peta dan keberadaan mereka di lapangan untuk diajak tes kesehatan,” ujarnya.

Langkah penjangkauan ini krusial mengingat sepanjang semester pertama (Januari–Juni), Dinkes Tarakan telah menemukan 57 kasus positif HIV dari 7.077 orang yang diperiksa. Kasus terbanyak terdeteksi pada populasi kunci Lelaki Seks Lelaki (LSL) dengan 16 kasus, serta menyasar kelompok Wanita Pekerja Seksual (WPS) dan pelanggannya.

Selain penjangkauan khusus ke lokasi berisiko dan komunitas, Dinkes Tarakan juga rutin menggelar pemeriksaan Mobile VCT per triwulan ke hotel, tempat karaoke, pub, kafe, hingga tempat kerja dan universitas.

Pihak Dinkes menegaskan, deteksi dini melalui penjangkauan lapangan sangat penting agar warga yang tertular bisa langsung dialihkan ke program pengobatan gratis ARV sebelum kondisi kesehatannya memburuk. (dy) ***

error: Content is protected !!