​TARAKAN – Buruknya kualitas udara akibat paparan kabut asap di Kota Tarakan berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan mencatat lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang signifikan dalam empat pekan terakhir, di mana angka kasus mencapai 777 kasus pada minggu ke-39 tahun 2026.
​
Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Tarakan, Rini Faulina, SKM., M.Kes., menyampaikan bahwa kenaikan ini terpantau melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR/W2) yang digunakan untuk mengantisipasi potensi Kejadian Luar Biasa (KLB).
​
Berdasarkan data Dinkes Tarakan, grafik kasus terus menunjukkan tren peningkatan:
• ​Minggu ke-36: 481 kasus
• ​Minggu ke-37: 609 kasus
• ​Minggu ke-38: 619 kasus
•  ​Minggu ke-39:777 kasus

“Dari minggu ke-36 sampai minggu ke-39 memang terjadi peningkatan. Data ini baru masuk dan kami masih memilah per puskesmas untuk mengetahui wilayah mana yang mencatatkan kasus tertinggi,” ujar Rinny, Senin (12/10).
​
Rini menjelaskan, lonjakan kasus dipicu oleh kombinasi faktor lingkungan dan kondisi fisik warga. Masyarakat yang memiliki riwayat batuk, pilek, atau gangguan pernapasan cenderung mengalami perburukan kondisi saat terpapar udara kotor.
​
Pemantauan kualitas udara di Tarakan pada Senin pagi menunjukkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) masih berada di atas angka 100, yang tergolong dalam kategori tidak sehat. Meskipun tingkat ketahanan tubuh setiap individu berbeda, paparan polusi secara berulang tetap memiliki dampak jangka panjang yang berbahaya.
​
Mengacu pada Surat Edaran Wali Kota Tarakan, Dinkes mengimbau warga untuk membatasi aktivitas di luar ruangan. Jika harus keluar rumah, penggunaan masker sangat dianjurkan.
​
Dinkes memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan seperti penderita asma, lansia, dan ibu hamil agar lebih waspada serta rutin memeriksakan kesehatan ke puskesmas. Selain itu, masyarakat diminta memperbanyak konsumsi air putih dan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
​
“Kami terus menyosialisasikan imbauan ini melalui media sosial puskesmas, grup WhatsApp, hingga edukasi langsung kepada pasien yang berobat,” tutup Rini. (dy) ***

error: Content is protected !!