Ketua DPC Asosiasi Logistik and Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) Kota Tarakan–Efri Harianto.

TARAKAN, Maqnaia — Pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar bagi armada angkutan logistik di Kota Tarakan kerap mengalami kekosongan pada akhir bulan. Kondisi ini dikeluhkan oleh para pengusaha angkutan barang karena berdampak langsung pada kelancaran arus distribusi kebutuhan pokok masyarakat dari pelabuhan.

Ketua DPC Asosiasi Forwarder dan Logistik Indonesia (ALFI/ILFA) Tarakan, Efri Harianto, mengungkapkan bahwa kekosongan stok tersebut biasanya mulai terjadi sejak tanggal 26 hingga awal bulan berikutnya.

“Pemberhentian layanan operasional di SPBU pukul 14.00 WITA serta kekosongan pasokan BBM pada tanggal 26 ke atas cukup berpengaruh bagi kami, terutama untuk distribusi barang kebutuhan masyarakat yang mayoritas masuk melalui pelabuhan,” ujar Efri usai menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Tarakan, Rabu (19/08/2026).

Efri menjelaskan, para sopir angkutan terpaksa harus saling berkoordinasi dengan pihak SPBU di awal bulan untuk memastikan ketersediaan BBM sebelum bisa kembali beroperasi normal. Mayoritas armada memanfaatkan pengisian di SPBU Persemaian, dengan konsumsi BBM sekitar 10 hingga 20 liter untuk perjalanan pulang-pergi saat mengambil kontainer di pelabuhan.

Terkait kebijakan kuota, armada angkutan barang saat ini mengacu pada Surat Edaran Wali Kota Tarakan dengan jatah BBM subsidi sebanyak 48 liter per kendaraan per hari. Namun, ketika pasokan subsidi habis di akhir bulan, para pengusaha terpaksa beralih menggunakan BBM non-subsidi demi menyelesaikan kontrak pengiriman barang tepat waktu.

Efri menegaskan bahwa fokus utama para pelaku usaha logistik sebenarnya bukanlah persoalan memilih antara BBM subsidi atau non-subsidi, melainkan kepastian ketersediaan stok fisik BBM di lapangan.

“Kami berupaya menahan diri agar tidak terjadi fluktuasi harga angkutan di masyarakat. Harapan kami melalui RDP ini, BBM—khususnya non-subsidi—dapat selalu sedia penuh selama satu bulan tanpa ada hari-hari yang kosong,” jelasnya.

Selain jaminan ketersediaan BBM, Efri juga meminta pihak Pertamina Patra Niaga untuk memberikan kemudahan penanganan teknis bagi para sopir yang mengalami kendala sistem barcode, seperti barcode hilang atau rusak, agar dapat segera diproses kembali.

Saat ini, terdapat sekitar 170 unit kendaraan angkutan barang yang terdaftar di bawah naungan DPC ALFI/ILFA Tarakan, meliputi jenis armada trailer, tronton, hingga truk kayu.

Kelancaran pasokan BBM bagi seluruh armada ini dinilai sangat penting demi menjaga stabilitas harga dan ketersediaan logistik di wilayah Tarakan. (dy/**)

error: Content is protected !!