TARAKAN, Maqnaia – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Jusuf SK Tarakan terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan publik sekaligus merespons dinamika kebutuhan masyarakat di Kalimantan Utara. Sejumlah langkah strategis mulai dari pengelolaan komplain pasien, penambahan fasilitas rawat inap, hingga pembangunan bunker radioterapi saat ini tengah digencarkan.
Plt. Direktur RSUD dr. Jusuf SK, dr. Budy Azis B., Sp.PK., M.H menyatakan bahwa keluhan pasien dalam pelayanan publik merupakan hal yang tidak dapat dihindari sepenuhnya. Untuk merespons berbagai pengaduan secara cepat, pihak rumah sakit telah menyiapkan tim khusus serta skema penanganan cepat.
“Kami sudah menyiapkan Manager on Duty yang bertugas 24 jam untuk menanggapi keluhan pasien rawat inap maupun rawat jalan. Untuk pengaduan tertulis secara langsung, kami komitmen selesaikan dalam waktu 1×24 jam,” ujar dr. Budi Aziz saat diwawancarai usai acara Forum Konsultasi Publik, Senin (10/08/2026).
Menanggapi isu penumpukan atau antrean pasien di Unit Gawat Darurat (UGD), dr. Budi menjelaskan bahwa hal tersebut umumnya terjadi akibat lonjakan kasus musiman seperti usai hari raya atau saat terjadi wabah Demam Berdarah Dengue (DBD).
Untuk menyiasati keterbatasan tempat tidur pada kelas tertentu, manajemen menerapkan sistem titip kelas sementara tanpa mengenakan biaya tambahan hingga kamar di kelas yang bersangkutan tersedia.
Saat ini RSUD dr. Jusuf SK memiliki kapasitas 341 bed yang terbagi dalam beberapa kelas layanan. Namun, jumlah tersebut dinilai masih kurang ideal mengingat status rumah sakit ini sebagai satu-satunya rumah sakit rujukan utama di Provinsi Kalimantan Utara.
“Idealnya kita membutuhkan sekitar 500 bed untuk memenuhi standar rujukan. Oleh karena itu, kami telah mengajukan usulan ke Kementerian Kesehatan untuk pembangunan gedung baru tahun depan,” lanjutnya.
Selain rencana penambahan gedung rawat inap, RSUD dr. Jusuf SK juga tengah memproses pembangunan fasilitas radioterapi bernilai Rp23 miliar yang ditargetkan rampung pada akhir tahun ini. Gedung bunker khusus tersebut nantinya akan menampung peralatan medis mutakhir dari Kementerian Kesehatan, termasuk fasilitas kedokteran nuklir untuk terapi penyakit kanker.
Mengingat pengoperasian fasilitas radioterapi dan kedokteran nuklir memerlukan standar keamanan yang sangat tinggi, pihak rumah sakit telah menyiapkan tenaga kesehatan khusus serta personel keamanan (security) yang teruji dan mendapatkan pelatihan khusus di bidang nuklir.
“Seluruh kesiapan baik sarana, prasarana, maupun SDM medis dan penunjangnya sudah berjalan secara simultan agar layanan radioterapi ini dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat luas,” pungkas dr. Budi. (Dsy)

