Ilustrasi: Kebakaran Hutan & Lahan (Pinterest)
TARAKAN, Maqnaia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kota Tarakan mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan. Meski wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) secara umum tidak mengalami musim kemarau, karakteristik tanah lokal membuat daerah ini tetap rawan memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala BMKG Tarakan, Sulam Khilmi, menjelaskan bahwa fenomena El Nino yang saat ini berada pada fase kuat, namun tidak memberikan dampak kekeringan langsung bagi Kaltara. Wilayah yang mengalami musim kemarau di Kaltara hanya terbatas pada Pulau Nunukan, Pulau Sebatik, dan sebagian Kecamatan Tanjung Palas Timur.
“Untuk Kaltara pada umumnya dan Tarakan pada khususnya tidak mengalami kemarau. Namun, karakteristik tanah di Tarakan cukup riskan. Jika tidak ada hujan dalam tiga hingga lima hari saja, itu sudah berpotensi memunculkan titik panas (hotspot),” ujar Sulam Khilmi saat ditemui di kantornya, Senin (10/08).
Sulam menyebut wilayah Juata dan Pantai Amal sebagai dua kawasan di Tarakan yang paling rawan muncul titik panas saat intensitas hujan menurun. Meski demikian, hasil pantauan satelit BMKG saat ini menunjukkan belum ada titik hotspot yang terdeteksi di Kota Tarakan.
Secara keseluruhan di Kaltara, BMKG mendeteksi ada sekitar 10 titik panas yang tersebar di Kabupaten Bulungan dan Malinau. Namun seluruh titik tersebut masih berada pada level medium (skala 20% hingga 80%).
“Kategori medium ini baru menunjukkan bahwa suhu di titik tersebut lebih panas dibanding area sekitarnya saat satelit melintas, jadi belum tentu ada titik api atau karhutla. Berbeda dengan provinsi tetangga seperti Kalbar, Kalteng, dan Kalsel yang hotspot-nya sudah kategori high dan memang ada kebakaran,” jelasnya.
Meski kondisi cuaca dan kualitas udara di Tarakan masih relatif normal, BMKG mengingatkan adanya ancaman tidak langsung berupa asap kiriman. Jika terjadi karhutla di provinsi tetangga dan arah angin berembus dari selatan atau tenggara menuju utara, Kaltara berpotensi terpapar asap.
Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk menahan diri dan tidak membakar lahan atau sampah sementara waktu. Sebab, faktor aktivitas manusia menjadi pemicu utama terjadinya karhutla di tengah kondisi cuaca terik.
“Kami mengimbau warga untuk sementara tidak membakar lahan. Kalaupun terpaksa membakar, harus ditunggui dan dipastikan apinya benar-benar padam sebelum ditinggalkan,” tegas Sulam. (Dsy)

