Bank Indonesia Jogja. Foto: Pinterest
TARAKAN, Maqnaia – Sorotan publik atas pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyisakan perhatian besar terhadap masa depan stabilitas keuangan nasional.
Menanggapi situasi tersebut, Ekonom Universitas Borneo Tarakan (UBT), Margiyono, mengingatkan pentingnya menjaga independensi Bank Sentral dari segala bentuk manuver politik maupun intervensi pihak luar.
Menurut Margiyono, di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, independensi BI merupakan fondasi utama yang dibaca oleh pelaku pasar (market trust).
“Hal paling tabu dalam perekonomian adalah mengganggu independensi Bank Indonesia. Pihak-pihak di luar Bank Sentral seyogianya sangat berhati-hati dan jangan sampai memberikan respons yang dibaca pasar sebagai hal yang tidak sehat,” tegas Margiyono.

Ia menjelaskan bahwa jika pasar menangkap adanya sinyal intervensi atau keikutsertaan pihak luar dalam keputusan moneter, persepsi negatif akan langsung terbentuk.
Ketidakstabilan persepsi tersebut berisiko memicu sentimen buruk yang dapat memperberat tekanan terhadap perekonomian nasional.
Margiyono memaparkan bahwa keberhasilan ekonomi sejatinya dipengaruhi oleh dua pengampu utama: otoritas moneter (BI) yang mengelola kestabilan rupiah dan otoritas fiskal (pemerintah) yang mengendalikan anggaran APBN/APBD.
Ia mengibaratkan hubungan keduanya seperti pasangan Rama dan Sinta. Di tengah ‘guncangan’ global, kebijakan fiskal dan moneter memang dituntut untuk bersatu serta saling menguatkan. Namun, keselarasan tersebut bukan berarti menghilangkan sekat independensi masing-masing institusi.
“Hasil penilaian pasar sangat sensitif terhadap dinamika ini. Selama ini BI di bawah pimpinan Pak Perry sudah bertindak sangat prudent (hati-hati) dan maksimal. Langkah menaikkan suku bunga acuan hingga hampir 100 basis point (ke level 5,75%) adalah bukti upaya menjaga kestabilan nilai tukar dan menahan laju inflasi impor,” terangnya.
Saat ini, meski nilai tukar rupiah sempat berada di kisaran Rp17.900 per Dolar AS, Margiyono menilai rupiah sebenarnya telah menemukan titik kestabilan baru (new equilibrium). Posisi inflasi nasional di angka 3,2%–3,3% juga dinilai masih sangat sehat untuk mendorong gairah dunia usaha.
Menyongsong pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia, Margiyono berharap sosok Gubernur BI yang baru nanti tetap memiliki integritas dan kompetensi yang sejajar untuk mempertahankan benteng independensi tersebut.
“Pengganti beliau ke depan harus orang yang memiliki jiwa nasionalisme, sensitif terhadap pasar, ahli secara teknis moneter, dan mahir berkomunikasi. Baik komunikasi ke pasar, pengusaha, masyarakat, maupun kolaborasi dengan otoritas lain seperti OJK dan pemerintah,” pungkasnya.
Ia menekankan bahwa siapa pun figur yang terpilih kelak, tugas utamanya adalah mempertahankan positioning BI yang sudah stabil dan independen demi menjaga kepercayaan investor serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. (Dsy)

