TARAKAN, Maqnaia – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tarakan, Herman Hamid, memberikan penjelasan terkait aksi demonstrasi mahasiswa yang menuntut pencopotan polisi tidur (speed bump) di Jalan Halmahera dan Jalan P. Diponegoro, Kelurahan Sebengkok.
Herman menyatakan bahwa pihaknya telah menemui para mahasiswa dan menjelaskan bahwa khusus untuk ruas jalan depan Pengadilan Negeri Tarakan itu, pemasangan fasilitas pembatas kecepatan tersebut merupakan murni aspirasi warga dari lima RT yang berada di wilayah RW 6 setempat.
Menurut Herman, usulan tersebut dilatarbelakangi oleh tingginya kepadatan kendaraan yang melintas di kawasan Sebengkok sebagai jalur alternatif, serta tingginya aktivitas warga dari banyaknya gang diwilayah tersebut yang ingin beribadah ke Masjid Ar-Rahman.
Ia juga mengungkapkan bahwa kawasan tersebut kerap memicu kecelakaan lalu lintas akibat volume kendaraan yang padat dan kondisi jalan yang relatif sempit, yang bahkan pernah merenggut korban jiwa.
“Banyak kejadian-kejadian, khususnya warga RT 22, 23, 25 yang ingin melakukan aktivitas salat di RT 19 di Masjid Ar-Rahman,” ujar Herman saat ditemui usai menemui massa aksi, Rabu (28/10).
Ia menambahkan, usulan pemasangan speed bump tersebut sebenarnya telah diajukan warga sejak tahun 2025 saat dirinya melakukan reses di RW 6 dan kembali disuarakan pada 2026.
Menindaklanjuti aspirasi tersebut, pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) bersama Satuan Lalu Lintas (Satlantas) telah turun langsung ke lapangan dan menilai bahwa pemasangan polisi tidur di lokasi tersebut sudah sangat mendesak.
Setelah diberikan penjelasan mendalam mengenai latar belakang dan kajian keselamatan di balik pemasangan polisi tidur tersebut, mahasiswa akhirnya dapat memahami situasi yang ada.
Menanggapi adanya kritik dari mahasiswa terkait komunikasi yang dinilai kurang terbangun sebelum aksi, Herman mengakui bahwa surat dari pihak mahasiswa sebenarnya telah diterima, namun masih dalam proses penjadwalan di Badan Musyawarah (Bamus) DPRD sebelum akhirnya aksi unjuk rasa terjadi. (dy) ***

