Psikolog–Fanny Sumajouw
TARAKAN, Maqnaia — Fenomena perilaku menyimpang seperti LGBT, pencabulan, hingga gangguan psikologis yang melibatkan anak-anak usia sekolah (SD dan SMP) di Kota Tarakan kian meresahkan.
Psikolog Fanny Sumajouw mengungkapkan bahwa akar dari permasalahan ini mayoritas bersumber dari lemahnya pengawasan pola asuh keluarga serta paparan konten media sosial yang tak terbatas.
Menurut Fanny, anak-anak merupakan peniru sejati yang menyerap tontonan secara konkret. Maraknya tontonan yang menormalisasikan hubungan sesama jenis, penggunaan fitur avatar dan filter Artificial Intelligence (AI) pada gim digital, hingga pengaruh kelompok teman sebaya (peer group) membuat perilaku menyimpang dianggap sebagai hal yang lumrah oleh anak.
“Anak-anak melihat tontonan tanpa filter dan tanpa panduan orang tua. Awalnya hanya sekadar melihat, lama-lama terjadi pembiasaan. Bahkan, imajinasi liar dari ruang digital ini dampaknya sangat fatal, bahkan ada pasien anak yang sampai mengalami gangguan kejiwaan berupa kepribadian ganda (Multiple Personality Disorder),” ujar Fanny Sumajouw saat diwawancarai Maqnaia.com pada Rabu (26/08/2026) di Hotel Tarakan Plaza.
Selain isu LGBT, Fanny juga menyoroti peningkatan kasus kekerasan dan pelecehan seksual pada anak di bawah umur yang ia tangani dalam sepekan terakhir. Menurutnya, bias konten dewasa yang dikemas dalam bentuk permainan anak turut memicu pergeseran moral dan perilaku anak-anak di lapangan.
Menanggapi wacana pembentukan Peraturan Daerah (Perda) atau Peraturan Wali Kota (Perwali) terkait penanganan LGBT dan kenakalan remaja di Tarakan, Fanny menekankan pentingnya regulasi yang berdampak nyata.
Ia mendorong pemerintah daerah untuk membatasi ruang gerak anak yang kurang produktif—seperti keberadaan kafe-kafe hingga larut malam—serta membangun fasilitas penanganan yang terpadu.
“Pemerintah perlu menghadirkan shelter atau pusat kegiatan anak yang holistik. Di sana harus ada fungsi pencegahan (preventif), penanganan (kuratif), rehabilitasi, hingga ruang konsultasi psikologi dan penguatan kapasitas keluarga,” tegasnya.
Meski demikian, Fanny mengingatkan bahwa benteng utama pencegahan berada di tingkat keluarga. Ia mengimbau para orang tua untuk menerapkan pola asuh positif, memperketat pembatasan gawai, serta membangun komunikasi terbuka (deep talk) bersama anak agar mereka merasa aman dan nyaman di rumah. (dy/**)

