TARAKAN, Maqnaia — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kota Tarakan memprakirakan potensi kerawanan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) dalam sepekan ke depan berada dalam kondisi cukup tinggi. Sebagian besar wilayah bahkan berada pada level sangat mudah terbakar akibat dampak fenomena El Nino.
Kepala BMKG Tarakan, Sulam Khilmi, menyampaikan bahwa berdasarkan pemodelan cuaca, potensi karhutla pada rentang tanggal 13 hingga 17 masih didominasi kategori sangat tinggi (berwarna merah), khususnya di wilayah Tarakan, Nunukan, Malinau, dan Bulungan.
“Dalam seminggu ke depan, level kemudahan kebakaran di Tarakan khususnya masih cukup tinggi. Namun sifatnya dinamis atau fluktuatif. Pada tanggal 18 mulai ada penurunan potensi, naik lagi di tanggal 19, dan diprediksi baru masuk kategori aman pada tanggal 20,” ujar Sulam Khilmi.
Selain potensi karhutla, BMKG mencatat dalam 24 jam terakhir terdeteksi sebanyak 153 titik panas (hotspot) di wilayah Kalimantan Utara. Dari jumlah tersebut, satu titik panas dengan tingkat kepercayaan (confidence level) terpantau berada di wilayah Tarakan Tengah, tepatnya di Kelurahan Kampung Satu Skip.
Dampak karhutla lokal yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di Bulungan dan Tarakan kini mulai memicu kemunculan kabut asap (smog). Kondisi ini menyebabkan jarak pandang (visibilitas) di Tarakan dan Nunukan turun hingga 5 kilometer. Sementara itu, jarak pandang di Tanjung Selor tercatat 8 kilometer, serta Berau dan Tawau berada di angka 7 kilometer.
Sulam meluruskan bahwa kabut asap yang menyelimuti Kaltara saat ini bukan merupakan asap kiriman dari Kalimantan Barat.
“Kalau memperhatikan arah angin, asapnya bukan dari Kalbar. Ini murni asap dari kebakaran lokal di Kaltara yang melayang di udara. Karakter asap ini tidak akan hilang sebelum diguyur hujan,” terangnya.
Penurunan kualitas udara juga mulai terasa. Konsentrasi parameter kualitas udara di Kaltara saat ini berada di angka 35 hingga 40 mikrobar, yang masuk dalam kategori sedang. Angka ini meningkat dibanding kondisi normal yang biasanya berada di bawah 20.
Meski suhu udara saat ini terbilang normal di angka 30 derajat Celsius, masyarakat merasakan cuaca yang cukup terik dan gerah.
BMKG menjelaskan hal tersebut dipicu oleh rendahnya kelembapan udara (kandungan uap air sedikit) serta minimnya tutupan awan, yang merupakan efek tidak langsung dari fenomena El Nino yang beririsan dengan periode kemarau.
Menghadapi kondisi ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran apa pun, baik sampah maupun pembukaan lahan. Warga yang beraktivitas di luar ruangan, terutama kelompok rentan, disarankan mulai menggunakan masker guna menghindari gangguan pernapasan.
Selain itu, para pengguna transportasi laut dan nelayan diingatkan untuk lebih waspada terhadap penurunan jarak pandang navigasi serta potensi gelombang tinggi yang bisa melebihi 1 meter di perairan Kaltara. (dsy)

