TARAKAN, Maqnaia – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Rakyat Tarakan menggelar aksi di Kantor DPRD Tarakan, Rabu (28/10). Massa aksi tiba di Kantor DPRD sekira pukul 17.00 Wita setelah sebelumnya berorasi di Simpang Empat Tarakan Mall lalu melakukan long march menuju Gedung Dewan.
Setibanya di Kantor DPRD, massa aksi langsung berorasi menyampaikan pendapat dan melakukan bakar ban sebagai simbol kemarahan atas berbagai isu yang dikeluhkan masyarakat saat ini.
Salah satu peserta aksi dari Fakultas Hukum Universitas Borneo menyampaikan kritik terhadap penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang dilakukan pemerintah.
Ia menilai pemerintah telah gagal menyejahterakan masyarakat, di mana kebutuhan dasar berupa air bahkan udara seolah menjadi barang yang mahal dan sulit dipenuhi oleh pemerintah.
“Sungguh disayangkan, air bahkan udara menjadi sesuatu yang mahal hari ini,” ujar salah satu peserta aksi.
Dalam aksi ini, terdapat lima poin utama yang menjadi sorotan tajam dalam aksi tersebut. Pertama, massa menyoroti keberadaan polisi tidur atau yang dijuluki “Jenderal Tidur” di kawasan Ladang Kota Tarakan, yang dinilai mengganggu kelancaran aktivitas masyarakat dan pengguna jalan.
Kedua, massa juga melayangkan kritik terhadap dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Kebijakan kepemimpinan nasional tersebut dinilai belum memberikan perubahan yang signifikan bagi kesejahteraan masyarakat, dengan mengusung slogan “Rakyat Sedih dan Menderita”.
Selain itu, isu nasional mengenai permasalahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Kalimantan dan Sumatera turut menjadi materi orasi yang mendesak perhatian serius pemerintah.
Di tingkat lokal, para demonstran kembali menyoroti infrastruktur perkotaan, yakni kondisi jalan berlubang di Jalan Gajah Mada, Kota Tarakan, yang dinilai membahayakan keselamatan para pengguna jalan. Kelima, permasalahan pelayanan air bersih dari PDAM di Kota Tarakan juga menjadi sorotan akibat belum optimalnya distribusi air yang kerap mengalami gangguan bagi masyarakat. (dy) ***

