TARAKAN — Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Tarakan mematangkan persiapan puncak peringatan Hari Santri Nasional yang dirangkai dengan kegiatan Tahlil Akbar, Istighosah, serta Haul Mbah K.H. Slamet Basuki. Acara puncak tersebut dijadwalkan berlangsung di Masjid Nur Mubakkirin, Juata Permai, Tarakan Utara pada Sabtu malam, 24 Oktober.
Ketua GP Ansor Tarakan, Muhammad Zaid Hadi, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan Hari Santri tahun ini mengusung semangat untuk terus menjaga nilai-nilai Al-Qur’an dan merawat tradisi luhur pondok pesantren yang telah menjadi akar kekuatan Nahdlatul Ulama (NU) sejak sebelum kemerdekaan.
“Kan ada dua instruksi dari Kementerian Agama dan PBNU yang tujuannya sama. Logo PBNU menggambarkan Al-Qur’an dan akar pohon, yang menandakan bahwa santri dan pesantren adalah penjaga tradisi serta kaderisasi umat dari bawah,” ujar Zaid Hadi saat diwawancarai, Jumat (23/10).
Ia menambahkan, pemilihan lokasi puncak acara di Tarakan Utara—tepatnya di masjid yang dibangun oleh Bendahara PCNU Nur Mubakkirin—dilandasi pertimbangan strategis, mengingat kawasan tersebut diproyeksikan sebagai pusat pemerintahan Kota Tarakan di masa depan.
Acara ini rencananya akan dihadiri oleh pimpinan pondok pesantren se-Tarakan, jajaran Forkopimda, wali kota, serta para tokoh masyarakat.
Selain agenda keagamaan, GP Ansor dan Banser secara nasional turut menggerakkan Satgas Bencana untuk merespons darurat bencana alam, khususnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dampaknya turut dirasakan di wilayah Kalimantan.
Zaid menyebutkan bahwa sahabat-sahabat Banser di daerah yang terdampak langsung seperti Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, hingga Sumatra, terus aktif turun tangan membantu pemadaman di lapangan. Sementara itu, aksi nyata di Tarakan diwujudkan melalui pembagian masker kepada pengguna jalan yang akan dimulai pada akhir Oktober ini.
Menanggapi berbagai kritik publik dan aksi protes lingkungan—termasuk aksi pembentangan spanduk Greenpeace di Bundaran HI—Ansor memandangnya sebagai bentuk kepedulian universal anak muda terhadap krisis ekologi.
“Dampak bencananya luar biasa dirasakan di Kalimantan. Apa yang dilakukan berbagai pihak adalah bentuk kepedulian. Namun, langkah kami di daerah tetap berpijak pada prinsip sami’na wa atho’na, di mana setiap gerakan sosial maupun aksi lanjutan senantiasa dikoordinasikan dan direstui oleh para kiai sepuh di struktur NU,” pungkas Zaid. (dy) ***

