Margiyono – Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Borneo Tarakan.

TARAKAN, Maqnaia — Pengusulan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) oleh Presiden ke DPR RI dinilai menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional. Pakar Ekonomi Universitas Borneo Tarakan (UBT), Margiyono, menyebut keputusan tersebut berhasil memberikan kepastian dan ketenangan bagi pelaku pasar.

Margiyono menjelaskan, respon positif pasar tercermin langsung dari pergerakan nilai tukar mata uang nasional. Rupiah yang sempat berada di kisaran Rp18.000 per Dolar AS kini bergerak menguat ke level Rp17.700.

Menurut Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UBT tersebut penguatan signifikan ini menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap rekam jejak Destry di otoritas moneter.

“Keberadaan Ibu Destry direspon sangat positif oleh pasar. Beliau punya pengalaman panjang di sistem pembayaran dan pengelolaan ekonomi, khususnya saat ikut merancang kebijakan penanganan krisis masa pandemi COVID-19 bersama tim teknokrat BI,” ujar Margiyono.

Ia menambahkan, salah satu terobosan besar selama masa kepemimpinan BI yang turut melibatkan Destry adalah peluncuran QRIS. Sistem pembayaran digital ini terbukti menjadi alat transaksi monumental yang diakui secara global sekaligus menopang pemulihan ekonomi nasional.

Selain aspek rekam jejak, skema calon tunggal juga dinilai sebagai langkah strategis untuk meminimalisir risiko stabilitas. Langkah ini sekaligus mencerminkan adanya keselarasan dan sinergi yang harmonis antara otoritas moneter (Bank Indonesia) dan otoritas fiskal (Pemerintah).

Meski demikian, Margiyono mengingatkan adanya tantangan besar yang menanti. Di tengah ruang fiskal pemerintah yang makin terbatas, peran sektor perbankan menjadi tumpuan utama pembiayaan pembangunan. Saat ini, pertumbuhan kredit masih berada di kisaran 9 persen, belum mencapai target ideal sebesar 13 persen dengan suku bunga acuan 5,75 persen.

“PR utama ke depan adalah bagaimana mendorong penyerapan kredit tanpa mengganggu stabilitas nilai tukar Rupiah. BI perlu menyiapkan berbagai skema insentif, seperti kelonggaran likuiditas hingga fleksibilitas skema cicilan, agar ekonomi bisa tumbuh lebih akseleratif,” pungkasnya. (Dsy)

error: Content is protected !!