Seperti orang yang sedang mengalami rasa rindu tak tertahan, Politisi PDI Perjuangan, Deddy Sitorus sudah tak tahan lagi ke Kalimantan Utara. Waktu 6 bulan terjebak pertarungan di Jakarta membuatnya sungguh tersiksa.
Ia rindu Dapil yang dicintainya itu. Ternyata, Ia harus melalui perjalanan yang melelahkan. Untungnya tidak sampai makan nasi basi. Bagaimana kisahnya? Berikut tulisannya.
“Bukannya gue gak mau ke Kaltara bro. Selama puasa, setelah lebaran, libur Paskah semua tiket pesawat full. Gue gak bisa ke Kaltara. Padahal semua agenda sudah disusun dan karena tanggal merah,” katanya.
Libur May Day menjadi secercah harapan. Dari Jakarta ia meminta tim untuk menyusun agenda. Kami yang ada di Dapil sebenarnya rada pesimis. Jangan seperti yang sudah-sudah. Agenda telah disusun, eh gak jadi berangkat. Gegara tiket sold out. Ternyata benar. Tanggal 1 Mei itu seluruh tiket penuh. Termasuk Business. Apalagi ekonomi. Mulai Batik Air, Lion, Super Air Jet sampai Citilink. Gak ada tiket tersisa. Ini juga yang buat Deddy geleng-geleng kepala.
“Gue bingung. Siapa sih yang borong tiket itu,” keluhnya.
Seluruh staf Dapil menahan pergerakan. Kami sepakat tidak ada jadwal yang disusun sebelum tiket ditangan. Kami tidak mau mengecewakan masyarakat. Sampai-sampai, ada tim menyarankan terbang via Tawau, Malaysia saja sebagai alternatif. Jadi rutenya. Jakarta-Kuala Lumpur-Tawau-Nunukan. Karena waktu tempuhnya lama, saran ini ditolak.
Tiba-tiba Yancer Mariton, kordinator Dapil Bulungan menyarankan terbang via Berau. Masuk akal. Jarak tempuh Berau-Tanjung Selor cuma dua jam pakai mobil. Masih worthed. Kami meyakini Deddy Sitorus pasti mau. Apalagi ada penerbangan Batik Air Jakarta-Berau. Masalahnya penerbangan itu harus transit lewat Surabaya.
“Kenapa kalian baru kasih tau bisa lewat Berau. Ya sudah bungkus,” tulis Deddy dalam pesan WA-nya.
Whoooss. Kami pun bergerak membuat agenda. Seluruh daerah kebagian. Bulungan, Tarakan, Nunukan dan Malinau. Tidak lama kemudian, Deddy perintah saya untuk berkomunikasi dengan manajemen Smart Cakrawala Aviation. Penyedia jasa penerbangan perintis.

“Coba lu tanya ada pesawat Smart gak ke Berau terus ke Tanjung Selor. Lumayan bro dua jam kalau jalan darat. Infonya juga jalan Berau-Tanjung Selor dibeberapa titik ada yang longsor. Dari pada beresiko, lebih bagus kita charter pesawat,” perintahnya.
Bisa! Kebetulan satu pesawat Smart type Cesna Caravan PK-SNK stanby di Bandara Juwata. Pesawat ini ujung tombak mengangkut BBM Pertamina dan Sembako ke pedalaman. Jangan membayangkan seperti pesawat private jet yang lux. Kapasitasnya 8 orang. Gak ada pramugari. Toilet. Lantainya dilapis kayu. Kalau Anda masuk, bukan mencium parfum. Tapi aroma solar. Jauh dari kesan mewah.
Pukul 12.30 pesawat terbang ke Bandara Kalimarau. Durasi penerbangan 28 menit. PK-SNK landing duluan. 20 menit kemudian baru Batik Air landing dari Surabaya. Dua penumpangnya adalah Deddy Sitorus dan Ida Suryani. On time. Sesuai schedule. Ngopi sejenak di lounge, kami turun ke apron menuju pesawat Smart. Kita akan terbang menuju Bandara Tanjung Harapan di Tanjung Selor. Penerbangan ini hanya memakan waktu 17 menit. Kami landing 15 menit sebelum pukul 15.00.
Di ibu kota provinsi ini puluhan koordinator buruh sudah menunggu. Mereka ingin menyampaikan banyak persoalan buruh di Kaltara kepada wakil mereka di Senayan. Diskusinya berjalan renyah. Semua pertanyaan dan masalah yang diungkap dicatat Deddy Sitorus.
Diakhir pertemuan, naskah tuntutan yang dibacakan saat May Day diserahkan. Deddy menerima tuntutan itu dalam sebuah map. Ia berjanji dari sekian banyak tuntutan yang bisa diselesaikan di Komisi 2 akan disampaikannya dalam rapat.
PK-SNK masih menunggu di Apron Tanjung Harapan. Saya meminta pertemuan dipercepat. Sebab, pukul 16.00 bandara itu tutup sesuai jadwal. Kami harus segera terbang ke Tarakan. Untung, 5 menit sebelum masuk pukul 16.00 kami tiba di terminal. 10 menit kemudia masuk pesawat dan takeoff menuju Tarakan. 6 bulan menahan rindu bertemu rakyat di Dapil itu pun, akhirnya terbayarkan. (pai/bersambung)

