SAMARINDA, Maqnaia – Penyakit campak merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dan dapat menyebar dengan cepat, terutama pada anak-anak. Salah satu upaya penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit ini adalah melalui imunisasi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, Fit Nawati, mengatakan gejala campak umumnya ditandai dengan demam, batuk, pilek, mata merah, serta munculnya bercak-bercak merah pada kulit.
“Kalau kita lihat dari gejalanya, biasanya demam, batuk, pilek, mata merah, dan dapat menimbulkan bercak-bercak merah pada kulit,” ungkap Fit Nawati saat menjadi pembicara dalam kegiatan sosialisasi Waspada Campak pada Anak, Senin (16/3/2026).
Ia menjelaskan, cakupan imunisasi campak di Kalimantan Timur saat ini masih belum maksimal jika dibandingkan dengan target nasional. Dari target nasional sebesar 95 persen, capaian imunisasi di Kaltim baru mencapai sekitar 65 persen.
“Masih cukup jauh cakupan kita. Sekitar 30 persen anak masih belum terjangkau imunisasi,” terangnya.
Menurutnya, kondisi ini membutuhkan peran aktif masyarakat, terutama para orang tua yang memiliki bayi dan balita, agar memastikan anak-anak mereka mendapatkan imunisasi campak.
Fit menegaskan bahwa kelompok yang paling rentan terhadap penyakit campak adalah bayi dan balita yang tidak mendapatkan imunisasi. Selain itu, orang dewasa juga dapat menjadi sumber penularan, terutama jika memiliki kondisi gizi yang kurang baik.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk meningkatkan daya tahan tubuh, salah satunya dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Ia juga menjelaskan bahwa jadwal imunisasi campak kini telah mengalami perubahan. Jika sebelumnya imunisasi hanya diberikan satu kali pada usia 9 bulan, saat ini imunisasi diberikan sebanyak tiga kali, yakni pada usia 9 bulan, 18 bulan, serta saat anak duduk di kelas 1 SD.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kaltim, capaian imunisasi pada bayi usia 9 bulan baru mencapai sekitar 62 persen, sedangkan pada usia 18 bulan sekitar 60 persen.
“Alhamdulillah untuk anak kelas 1 SD cakupannya sudah mencapai sekitar 92 persen, karena melalui sekolah kita bisa melakukan edukasi kepada orang tua dan guru sehingga anak-anak lebih mudah mendapatkan imunisasi,” pungkasnya. (Prb/ty/win)

