TARAKAN, Maqnaia – Musyawarah Daerah (Musda) Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kota Tarakan resmi menetapkan dr. M. Hasbi Hasyim, Sp.PD. (Dokter Hasbi) sebagai Ketua terpilih periode 2026-2031. Mantan Direktur RSUD Tarakan (sekarang RSUD dr. Jusuf SK) tersebut unggul tipis dalam perolehan suara yang berlangsung cukup alot.

Ketua Presidium Sidang Musda KKSS Tarakan, Drs. Muhammad Jufri, M.M., mengungkapkan bahwa pemilihan dilakukan melalui mekanisme pemungutan suara (voting) setelah upaya musyawarah mufakat tidak mencapai titik temu.

“Sangat seru. Perolehan suara 14 untuk Pak Hasbi dan 12 untuk Pak Tajuddin dari total 26 suara. Sebelumnya sudah diupayakan mufakat, namun kedua kandidat menginginkan pemilihan langsung,” ujar Jufri usai persidangan.

Ditemui secara terpisah, dr. Hasbi menegaskan bahwa pilihannya untuk tetap melakukan voting adalah demi memberikan edukasi politik yang sehat di internal organisasi. Ia berharap kompetisi ini tidak meninggalkan polarisasi, melainkan memperkuat solidaritas warga perantauan asal Sulawesi Selatan di Tarakan.

“Mari kita belajar berdemokrasi. Demokrasi ini bukan untuk saling menyakiti. Setelah ini selesai, saya dan Pak Tajuddin tetap berangkulan untuk menyongsong masa depan KKSS yang lebih baik,” kata dr. Hasby.

Dalam visinya, dr. Hasbi berkomitmen membawa KKSS menjadi organisasi yang lebih peduli pada urusan sosial dan kesehatan serta independen dari kepentingan politik.

Menjelang tahun politik, dr. Hasbi menegaskan terkait posisi organisasi. Ia menekankan bahwa meskipun setiap anggota memiliki hak politik individu, KKSS secara institusi tidak boleh dijadikan alat politik untuk menjaga keutuhan warga.

​”Saya berharap organisasi ini tidak digiring-giring lagi pada saat ada pesta demokrasi. Silakan anggota berpolitik karena itu hak masing-masing rakyat Indonesia, tapi organisasi jangan dibawa. Supaya tidak memecahkan kesolidan kita,” tegasnya.

Program prioritas yang diusung dr. Hasbi adalah pembentukan sumber dana kas melalui sumbangan sukarela warga. Dana ini nantinya akan digunakan khusus untuk mengakomodir warga perantauan asal Sulawesi Selatan di Tarakan yang membutuhkan bantuan, terutama di sektor kesehatan.

​​”Jujur saja saya katakan tadi, kita ini perantau tidak semuanya sukses. Ada tetap saudara-saudara kita yang masih hidupnya susah. Dan itu sering terjadi dan sering saya temukan di rumah sakit. Datang sakit, apalagi belum ada BPJS itu, sakit tidak punya biaya dan tidak ada yang memperhatikan. Mungkin salah satu itu nanti concern kami,” ujar dr. Hasby.

Saat ini, tim formatur yang terdiri dari sembilan orang perwakilan pilar telah dibentuk untuk menyusun struktur kepengurusan lengkap. Tim formatur diberikan waktu maksimal satu bulan untuk merampungkan komposisi pengurus sebelum dilaksanakan pelantikan dan rapat kerja daerah.

Meskipun masih aktif sebagai dokter spesialis, dr. Hasbi optimis dapat membagi waktu dengan baik karena dukungan tenaga medis di rumah sakit saat ini sudah jauh lebih memadai dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. (*)

error: Content is protected !!