JAKARTA, Maqnaia — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur kembali menunjukkan optimisme besar terhadap transformasi ekonomi daerah. Dalam Berita Satu Regional Forum 2025 bertema “Empowering Regions: From Local to Global” yang digelar di Hotel Mulia Jakarta, Rabu (10/12/2025), Gubernur Kaltim Dr H Rudy Mas’ud tampil sebagai salah satu narasumber bersama Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Gubernur Jakarta Pramono Anung.
Forum strategis ini mempertemukan para pemimpin daerah untuk membahas arah pembangunan dan inovasi regional dalam menghadapi momentum pertumbuhan ekonomi baru Indonesia.
Dalam paparannya, Gubernur Rudy Mas’ud menjelaskan bahwa setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga strategi inovasi pun tidak bisa disamaratakan.
“Visi dan misi daerah berbeda-beda dan punya kekhasan sendiri. Tidak bisa dibandingkan secara apple to apple dengan Jawa Tengah. Kaltim ini unik, luas wilayahnya mencapai 127 ribu kilometer persegi, setara Pulau Jawa, tetapi dengan penduduk hanya 4,2 juta jiwa,” ujarnya.
Menurut Rudy, bentang geografis dan struktur demografi menciptakan tantangan sekaligus peluang besar bagi Kalimantan Timur.
Rudy memaparkan kekuatan utama Kalimantan Timur sebagai lumbung energi nasional. Kaltim merupakan produsen batu bara terbesar di Indonesia, memiliki 30 persen kontribusi terhadap produksi migas nasional, serta memiliki luas hutan mencapai 8,2 juta hektare.
Sektor perkebunan juga menyumbang potensi besar, dengan total perkebunan sawit seluas 3 juta hektare, di mana 1,5 juta hektare sudah tergarap dan mampu menghasilkan 5 juta ton CPO per tahun.
“Sawit hanya tumbuh di daerah tropis. Ini fundamental potensi ketahanan energi nasional, termasuk pengembangan biofuel seperti B40, B70, dan seterusnya,” jelasnya.
Di sektor energi fosil, produksi minyak bumi Kaltim mencapai 53 ribu barel per hari, sementara produksi gas menembus 1,2 juta kaki kubik per hari. Cadangan gas yang dimiliki Kaltim mencapai 5,5 triliun kaki kubik, ditambah potensi 100 juta barel kondensat yang akan mulai dihasilkan pada 2028–2030.
Melimpahnya SDA membuat Rudy yakin Kaltim memiliki kapasitas kuat untuk melompat ke tingkat kesejahteraan lebih tinggi.
“Kaltim harusnya bisa keluar dengan cepat dari low middle income, minimal setara Jakarta,” tegasnya.
Meski berada dalam tekanan fiskal, Rudy menilai situasi tersebut justru menjadi peluang untuk melahirkan terobosan.
“Tekanan fiskal adalah opportunity bagi kami. Pemangkasan dan efisiensi bisa menumbuhkan ekonomi luar biasa,” katanya.
Gubernur Rudy menegaskan bahwa keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) akan menjadi pengungkit terbesar bagi Kaltim.
“Kaltim akan menjadi subholding ekonomi baru di Indonesia Timur. Seluruh masyarakat akan hidup berdampingan menciptakan ekosistem baru, perekonomian baru,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan kabar penting terkait peningkatan konektivitas regional. Menteri Perhubungan Malaysia dari Sarawak disebut akan meresmikan rute penerbangan khusus wilayah Kalimantan pada awal 2026.
Terdapat rencana pengoperasian 8 pesawat yang akan melayani rute Kalimantan, Sarawak, dan Sabah, membuka mobilitas ekonomi yang semakin terbuka.
Tak hanya itu, Rudy juga menyampaikan besarnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kaltim yang telah melampaui Rp 10 triliun. Dengan pengembangan inovasi dan program replanting serta reboisasi hutan seluas 8 juta hektare, ia optimistis Kaltim sedang menuju titik transformasi ekonomi yang lebih berkelanjutan.
“Potensi ekonomi Kaltim luar biasa besar. Tinggal bagaimana kita mengelola secara efisien untuk masa depan,” pungkasnya.
Hadir mendampingi Gubernur dalam forum nasional tersebut, Kepala Diskominfo Kaltim, Muhammad Faisal. (KRV/pt)

