Penulis: Nessy Rosdiana.
OPINI, Maqnaia – Merubah tambak menjadi hutan mangrove merupakan mimpi banyak pihak di Kalimantan Utara. Sepak terjang masyarakat Kelurahan Kampung Empat, Kecamatan Tarakan Timur, Kota Tarakan telah membangunkan mimpi menjadi nyata. Kampung Empat menjadi contoh keberhasilan rehabilitasi partisipatif. Dukungan dari banyak pihak seperti Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Tarakan, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Mahakam Berau, Mangrove for Coastal Resilience (M4CR) kepada masyarakat Kampung Empat telah menghidupkan kembali benteng alami yang terdegradasi, hutan mangrove Kalimantan Utara.
Degradasi Mangrove di Kalimantan Utara dimulai sejak tahun 1990-an. Alih fungsi lahan menjadi tambak menyebabkan mangrove menghilang. Padahal, mangrove merupakan rumah bagi biota laut, penjaga keanekaragaman hayati, sumber penghidupan masyarakat dan penyerap karbon yang sangat efektif dalam menghadapi perubahan iklim. Hilangnya mangrove juga terjadi di Kelurahan Kampung Empat.
Program Kebun Bibit Rakyat dari BPDAS Mahakam Berau tahun 2019 menjadi awal kebangkitan masyarakat Kampung Empat dalam menghidupkan mangrove. Meskipun nama kelompok berganti namun semangat menghidupkan mangrove tetap konsisten. Gerakan penanaman mangrove seluas ± 60 ha yang dilakukan oleh masyarakat Kampung Empat telah merubah wajah Kampung Empat, dari tambak menjadi Mangrove Edupark Kampung Lestari.
‘Ikan sudah dekat‘ merupakan istilah yang digunakan masyarakat untuk keberhasilan penanaman mangrove. Dulu sulit mencari ikan dan udang, sekarang sudah banyak masyarakat yang memancing di Mangrove Edupark. Dulu suara bising pabrik terdengar amat keras, sekarang masyarakat dapat tidur dengan nyenyak, berkat keberadaan mangrove Kampung Empat ini.
Kebun Bibit Rakyat Kampung Empat hingga saat ini masih memproduksi bibit mangrove yang menjadi salah satu alternatif pendapatan masyarakat terutama kaum perempuan. Tak kalah menarik dan inspiratif adalah, masyarakat Kampung Empat melalui Karang Tarunanya, bukan hanya menjual bibit namun juga memberikan bibit mangrove secara gratis kepada siapa saja yang tertarik menanam mangrove. Hampir 1 juta bibit mangrove disemai dan dibagikan secara gratis melalui program penanaman baik yang diinisiasi oleh pemerintah maupun perusahaan melaui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJLS).
Mangrove Edupark Kampung Lestari Kampung Empat juga menjadi lokasi sekolah lapang pembibitan mangrove. Masyarakat kampung Empat bekerjasama dengan M4CR telah melakukan sekolah lapang terkait mangrove kepada ± 100 kelompok masyarakat yang tersebar di Kalimantan Utara.
Upaya masyarakat Kampung Empat merupakan bentuk komitmen dan dedikasi masyarakat terhadap mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Upaya ini telah mendapatkan pengakuan dari kementrian Lingkungan Hidup dengan pemberian trophyProklim Utama untuk Kelurahan Kampung Empat. Dan saat ini, Kampung empat juga telah diajukan kandidat penerima Kalpataru tahun 2026. Tak salah jika masyarakat Kampung Empat disebut Penjaga Kebangkitan Mangrove Kalimantan Utara (16/4/2026). (*)
*Nessy Rosdiana adalah Koordinator GIZ PROPEAT Kaltara, organisasi milik pemerintah Jerman yang bekerja di seluruh dunia untuk mendorong kerja sama internasional di bidang pembangunan berkelanjutan utamanya terkait pengelolaan ekosistem gambut dan mangrove.
Editor: Dedy Syarkani

