TARAKAN, Maqnaia – Wali Kota Tarakan, dr. H. Khairul, M.Kes., menanggapi santai kebijakan Work From Home (WFH) yang diterbitkan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) untuk penghematan energi. Khairul menegaskan bahwa tanpa perlu kebijakan WFH setiap Jumat, Pemerintah Kota Tarakan sebenarnya telah menerapkan pola penghematan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang sangat ketat sejak tahun-tahun pertama kepemimpinannya.

Khairul mengungkapkan bahwa sistem penghematan di lingkup Pemkot Tarakan sudah berjalan selama 5 hingga 6 tahun terakhir. Salah satu kebijakan signifikan yang diambil adalah menghapus tanggungan BBM untuk kendaraan dinas yang melekat pada jabatan perorangan.

Khairul menyebut, seluruh pejabat mulai dari Kepala Dinas, Asisten dan lainnya wajib menanggung sendiri biaya BBM kendaraan yang mereka bawa pulang. Anggaran BBM, kata dia, hanya dialokasikan untuk kendaraan yang bersifat operasional murni dan tidak dibawa pulang, seperti unit ambulans, truk sampah, pemadam kebakaran, serta kendaraan operasional Satpol PP.

Fasilitas BBM yang ditanggung Pemda hanya diberikan kepada Wali Kota, Wakil Wali Kota, dan Ketua DPRD karena alasan teknis tunjangan transportasi.

“Kendaraan yang dibawa pulang, silakan tanggung sendiri BBM-nya. Mau dipakai 24 jam urusanmulah, kau sendiri yang beli bensin,” tegas Khairul saat memberikan keterangan, Rabu (01/04/2026).

Selain sektor transportasi, Khairul juga menonjolkan budaya rapat yang tidak biasa sebagai bagian dari efisiensi. Ia mengaku lebih sering memanggil jajarannya untuk berkoordinasi di rumah jabatannya daripada di kantor atau hotel.

“Saya kenapa jarang rapat di kantor, karena kalau di kantor biasanya pasti nyiapin makan, nyiapin konsumsi, kalau di rumah kan enggak. Ada Aqua di situ, itulah kau minum,” ungkapnya.

Strategi ini diklaim mampu memangkas biaya konsumsi rutin yang biasanya membebani anggaran daerah.

Khairul menilai kebijakan WFH yang diinstruksikan dalam SE Mendagri Nomor 800.1.5/3349/SJ belum tentu efektif untuk Tarakan. Ia justru khawatir penutupan kantor pada hari Jumat akan mendorong ASN untuk bepergian ke tempat wisata, yang justru meningkatkan konsumsi BBM secara personal di tengah krisis energi akibat ketegangan di Selat Hormuz.

“Kalau tidak harus (wajib), kami tidak deh. Buat Tarakan, dalam konteks menghemat energi, tapi misalnya masih buka yang lain, ya pasti dia enggak mungkin di rumah. Nongkrong,” pungkas Khairul. (Dsy)

error: Content is protected !!