TARAKAN, Maqnaia – Pakar Ekonomi dari Universitas Borneo Tarakan (UBT), Dr. Margiyono, S.E., M.Si., menilai ketahanan stok BBM Indonesia masih dalam kategori aman untuk melewati masa krusial pasca-lebaran, meski situasi global sedang memanas akibat konflik di Timur Tengah.
Menanggapi pernyataan Kementerian ESDM mengenai cadangan minyak nasional yang hanya bertahan 20 hari, Margiyono menyatakan bahwa durasi tersebut cukup untuk menjaga stabilitas hingga aktivitas masyarakat kembali normal setelah masa mudik.
“Cadangan 20 hari itu saya rasa cukup untuk melewati masa tersebut (H+7 lebaran). Secara teoritis, sampai H+15 atau H+16 stok kita masih aman,” ujar Margiyono saat dikonfirmasi, baru-baru ini.
Menurutnya, pemerintah memiliki “bantalan” ekonomi yang cukup kuat karena saat ini posisi anggaran cenderung terpusat di APBN. Hal ini memudahkan pemerintah dalam mengelola belanja darurat dan melakukan prioritas ulang (refocusing) anggaran jika terjadi guncangan ekonomi.
Terkait kemampuan impor energi, Margiyono mengungkapkan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia masih sangat solid. Berdasarkan koordinasi dengan Bank Indonesia, cadangan devisa yang berada di kisaran 145 miliar dolar AS dianggap lebih dari cukup untuk menopang kebutuhan impor minyak mentah jika diperlukan.
“Dari sisi dana untuk impor, cadangan devisa kita masih kuat. Jika harus mengimpor, devisa kita siap. Tinggal bagaimana pemerintah melakukan pergeseran anggaran di APBN,” jelasnya.
Mengenai wacana kenaikan harga BBM akibat gangguan pasokan global, Margiyono menyarankan agar pemerintah tetap mempertahankan harga saat ini. Menurutnya, menaikkan harga BBM di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang baru saja mengeluarkan biaya besar untuk mudik sangatlah berisiko.
“Menaikkan harga itu agak berisiko karena masyarakat sedang dalam kondisi ekonomi yang sulit pasca-mudik. Untuk BBM non-subsidi memang mengikuti pasar, tapi yang subsidi biarlah tetap ditanggung pemerintah untuk menjaga stabilitas,” tambahnya.
Ia menekankan bahwa kunci utama menghadapi ketidakpastian global ini adalah disiplin fiskal. Pemerintah pusat diharapkan dapat mengawasi pengelolaan APBN secara ketat agar penyaluran subsidi tetap tepat sasaran dan kesejahteraan masyarakat tetap terjaga sesuai amanat konstitusi.
Ia mengungkapkan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia masih sangat solid. Berdasarkan koordinasi dengan Bank Indonesia, cadangan devisa yang berada di kisaran 145 miliar dolar AS dianggap lebih dari cukup untuk menopang kebutuhan impor minyak mentah jika diperlukan.
“Dari sisi dana untuk impor, cadangan devisa kita masih kuat. Jika harus mengimpor, devisa kita siap. Tinggal bagaimana pemerintah melakukan pergeseran anggaran di APBN,” jelasnya.
Mengenai wacana kenaikan harga BBM akibat gangguan pasokan global, Margiyono menyarankan agar pemerintah tetap mempertahankan harga saat ini. Menurutnya, menaikkan harga BBM di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang baru saja mengeluarkan biaya besar untuk mudik sangatlah berisiko.
“Menaikkan harga itu agak berisiko karena masyarakat sedang dalam kondisi ekonomi yang sulit pasca-mudik. Untuk BBM non-subsidi memang mengikuti pasar, tapi yang subsidi biarlah tetap ditanggung pemerintah untuk menjaga stabilitas,” tambahnya.
Ia menekankan bahwa kunci utama menghadapi ketidakpastian global ini adalah disiplin fiskal. Pemerintah pusat diharapkan dapat mengawasi pengelolaan APBN secara ketat agar penyaluran subsidi tetap tepat sasaran dan kesejahteraan masyarakat tetap terjaga sesuai amanat konstitusi. (Dsy).

