TARAKAN, Maqnaia – Pemerintah memprediksi adanya penurunan jumlah pemudik pada tahun ini sebesar kurang lebih 1,75 persen, yakni dari 146,3 juta menjadi sekitar 143,9 juta orang. Menanggapi fenomena ini, pengamat ekonomi Margiyono menilai bahwa penurunan tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor teknologi, cuaca, hingga tekanan ekonomi yang sedang terjadi.
Penurunan angka 1,75 persen tersebut diperkirakan sebesar 2,57 juta orang bila dibandingkan dengan tahun 2025. Dari hasil survei Kementerian Perhubungan, sebanyak 146,4 juta orang.
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Borneo itu menjelaskan bahwa dalam masyarakat modern, mudik mulai mengalami perubahan pola. Salah satu faktor utama yang meringankan keputusan warga untuk tidak mudik adalah kemajuan teknologi komunikasi.
“Sistem interaksi antarmasyarakat sekarang sudah menggunakan video call dan medsos. Hal ini mengakibatkan rasa ingin bertemu fisik tidak terlalu mendesak karena perasaan dekat sudah terjadi setiap saat melalui teknologi,” ujar Margiyono dalam wawancara via telepon, Jumat (06/03/2026)
Selain faktor teknologi, ia juga menyoroti faktor cuaca ekstrem di Pulau Jawa dan Sumatera yang menjadi pertimbangan keamanan bagi masyarakat. Namun, faktor yang paling signifikan adalah tekanan ekonomi.
Menurutnya, efisiensi yang dilakukan pemerintah terhadap proyek-proyek di daerah berdampak pada berkurangnya serapan tenaga kerja dan pendapatan masyarakat, khususnya pekerja proyek.
“Penurunan aktivitas di sektor perdagangan seperti mal dan pertokoan akibat perubahan pola belanja juga memengaruhi daya beli masyarakat terhadap jasa transportasi mudik,” tambahnya.
Meski secara angka diprediksi menurun, Margiyono menekankan bahwa mudik tetap menjadi instrumen penting dalam pemerataan ekonomi nasional melalui fenomena shifting atau pergeseran daya beli. Pendapatan yang diperoleh masyarakat di kota-kota besar atau daerah industri akan mengalir ke daerah asal (pedesaan).
“Terjadi pergeseran daya beli dari perkotaan ke pedesaan. Misalnya, masyarakat yang bekerja di Kalimantan pulang ke Jawa Timur, Jawa Tengah, atau Jawa Barat. Hal ini meningkatkan pemerataan ekonomi di daerah asal mereka,” jelasnya.
Terkait kondisi di lapangan, Margiyono mengungkapkan fakta menarik di wilayah Kalimantan. Meski ada prediksi penurunan secara nasional, tiket pesawat dari Kalimantan (Tarakan, Balikpapan, dan Samarinda) menuju kota-kota besar di Jawa terpantau habis terjual sejak seminggu sebelum Lebaran.
“Saya sendiri termasuk yang tidak bisa mudik karena tiket pesawat sudah habis. Ini mengindikasikan bahwa pergerakan ekonomi dari Kalimantan ke luar daerah sangat luar biasa besar,” ungkapnya.
Menutup keterangannya, Margiyono berharap pemerintah tetap memberikan perhatian serius pada kesiapan infrastruktur dan ketersediaan moda transportasi. Hal ini penting untuk memastikan proses pergeseran ekonomi dari pusat ke daerah dapat berjalan lancar meskipun terdapat tantangan ekonomi dan cuaca. (Dsy)

